Showing posts with label Humaniora. Show all posts
Showing posts with label Humaniora. Show all posts

Saturday, 20 August 2011

Grafiti, Bukan Sekedar Coretan

Lukisan aneka warna yang ada pada dinding-dinding rumah, toko maupun pagar tembok ternyata bukan sekedar coretan. Bila dicermati, tersirat makna dalam seni menggambar dinding yang dikenal dengan nama grafiti tersebut. Hal ini merupakan wujud ekspresi merekadalam menyampaikan pesan kepada semua orang yang melihatnya.
Gambar | www.trendy.rasyid.net
Coretan yang dulu sempat dianggap merusak lingkungan ini nampaknya semakin banyak peminat. Hal ini terbukti saat pembuat grafiti alias bomber pada Sabtu (15/8) kemarin mengekspresikan karya seninya di sepanjang tembok belakang Hotel Maya, Jalan Monginsidi, Salatiga. Mereka berkompetisi dalam acara “Born to Burn, Salatiga Graffiti Competition” yang diselenggarakan oleh Sinner Crew (komunitas grafiti Salatiga) bekerjasama dengan Rinto Sujarwo Photography, sebagai sponsor utama.

Born to Burn sendiri merupakan acara tahunan Sinner Crew yang diselenggarakan di Salatiga. Tahun lalu acara yang sama mereka selenggarakan di sepanjang tembok Jalan Kalimangkak. Acara kali ini merupakan yang keempat, namun berbeda dari tahun-tahun sebelumnya yang hanya menggambar bersama dan tahun ini, mereka menggambar untuk dilombakan.

Dalam lomba yang berlangsung dari pukul 09.00 hingga 15.00 WIB tersebut, merupakan wujud keikutsertaan komunitas grafiti dalam memeriahkan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-64. Tema yang diambil adalah “Fotografiti Semangat Kemerdekaan” dan diikuti oleh 17 peserta dari berbagai kota di Jawa Tengah. Peserta lomba merebutkan total hadiah Rp 2 juta, beserta tropi dan sertifikat.

Masing-masing peserta pun disibukkan dengan spray paint (cat semprot), cat (yang mereka bawa sendiri — Red) dan tembok yang sudah disediakan panitia. Tangan-tangan cekatan para bomber pun beraksi. Mencat, menyemprotkan spray paint, mundur ke belakang, memandang dari kejauhan, ditemani rokok terselip di antara jari-jari mereka, itulah yang dilakukan saat menggambar. Menuangkan konsep yang telah direncanakan sebelumnya, dilakukan secara bergantian oleh kelompoknya. Keramaian jalan pun tak mampu memecah konsentrasi mereka.

Penduduk sekitar yang ikut menonton aksi mereka pun mendukung acara ini. “Temboknya terlihat lebih bagus dengan grafiti yang keren seperti itu. Asalkan setelah kompetisi ini mereka bertanggungjawab akan kebersihan, peralatan yang mereka gunakan segera dibersihkan. Mereka berharap acara ini akan ada lagi tiap tahunnya,” ucap Zara, remaja yang tinggal disekitar tempat tersebut.

Pukul 15.00 WIB, ketiga orang juri mulai melakukan penilaian hasil karya mereka. Juri tersebut adalah Rinto Sujarwo, Tomi Febriyanto (penikmat seni sekaligus dosen Fisipol UKSW), dan Bayu “Yop” (salah seorang bomber Salatiga).

Keputusan juara kompetisi ini yang dibacakan Tomi. Juara Pertama diraih oleh mahasiswa Universitas Atmajaya, Rune dan As. Juara kedua, Mosses dan Hila. Dan juara ketiga, diraih oleh Ferdy dan Al. Pemenang, semuanya peserta dari Yogyakarta.

Saat dikonfirmasi Tomi mengatakan, “Mereka memenuhi kriteria dalam kompetisi ini.”
“Kesesuaian dengan tema, membuat grafiti tersebut menjadi sinkron dengan fotografi sesuai konsep fotografiti, mengaplikasikan unsur fotografi ke grafiti, serta seperti pada umumnya komposisi warna dan tagging grafiti itu sendiri,” jelasnya.

Dalam grafiti yang dibuat oleh Rune dan As, terlihat seorang wanita mencium sang merah putih yang ada di dekapan tangannya. Di sampingnya font grafiti besar bertulis “Merdeka”. Di antara tulisan dan gambar sosok seorang wanita, terdapat tulisan “HUT RI ke-64″, kemudian di bawahnya “Benderaku Kebanggaanku…”.

“Seorang wanita identik dengan kelembutan, sangat cocok memegang bendera merah putih yang suci,” jawab Rune saat ditanya Scientiarum mengenai konsep karyanya.

“Bendera merah putih lambang kemerdekaan, mengingatkan kekuatan yang begitu besar akan perjuangan bangsa, namun untuk meneruskan kemerdekaan sekarang ini perlu kelembutan bukan hanya kekerasan, agar bangsa Indonesia tetap bersatu,” tegasnya. 

Rune membawa pacarnya. Ia mengatakan kalau pacarnya itulah yang menjadi sumber inspirasi karyanya. Dan ada pula salah satu bomber dari mahasiswa UKSW yang mengatakan terinspirasi Mbak Ipah, pelayan café UKSW yang terkenal latah.

Tidak terlihat kekecewaan yang berarti dari para peserta yang lain. Usai acara Born to Burn ini, mereka meneruskan hasil karya mereka dengan spray paint dan cat yang masih tersisa.

Tujuan utama mereka bukanlah menang ataupun kalah, juga bukan hanya untuk merebutkan hadiah. Mereka cukup senang bisa menyalurkan hobi mereka, bisa saling belajar antarpeserta, dan acara kumpul bersama bomber itupun cukup mengasyikkan. Itulah yang diucapkan sebagian besar peserta saat ditanya tentang tujuan mereka mengikuti kompetisi ini.

Kompetisi grafiti ini bisa menjadi ajang kreativitas dalam mengolah huruf juga warna bagi peserta. Menjadi wadah para bomber untuk dapat menyalurkan hobi dan bakat — graffiti khusunya — lebih terarah dan tanpa merusak fasilitas umum.

Grafiti bukan sekedar coretan. Grafiti adalah sebuah seni rupa yang patut hargai dan dikagumi oleh siapapun. Keindahan perpaduan komposisi warna dengan cat dan pylox, melukiskan kalimat di atas dinding, menjadi wujud karya para bomber.

Source: http://scientiarum.com/2009/09/02/grafiti-bukan-sekedar-coretan/

Saturday, 11 June 2011

Filosof dari Salatiga

Ki Ageng Suryamentaram (KAS) lahir 22 Mei 1892 sebagai putra Sultan Hamengku Buwana VII dengan garwaampil BRA Retnomandoyo (puteri Patih Danuredja VI). Perlu diketahui bahwa Sultan HB VII, yang dijuluki “Sinuhun Behi,” berputra 78 orang dari 3 permaisuri dan 18 garwaampil. KAS adalah putra ke-55. KAS menyelesaikan sekolah dasar dan klein ambtenaar di lingkungan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Mulai berfilsafat tahun 1921 lewat Perkumpulan Selasa Kliwonan. Karena alasan pribadi ingin bertemu “orang,” ia menanggalkan kepangeranannya tahun itu juga, dan menetap di Kroyo Bringin, Salatiga, sebagai petani sejak tahun 1925.

KAS juga dikenal sebagai Ki Ageng Bringin (KAS kerap dikelirukan orang dengan KRT Purwonagoro yang dijuluki “Ki Ageng Macanan” di Kauman Kidul — makamnya di Sidamulya, Salatiga).

Tahun 1959, dalam kegiatan ceramah kelilingnya di Dukuh Sajen, Semowo (10 kilometer arah timur laut Salatiga) KAS jatuh sakit, dan wafat di Yogyakarta tahun 1962. KAS akhirnya dimakamkan di Kagotan, Imogiri, DIY). Walau berdiam di Bringin, namun orientasi kegiatan dan orientasi spiritual budayanya tetap berkiblat ke Yogyakarta, antara lain sebagai anggota Perkumpulan Pangeran (Princes Bond) dan Perkumpulan Selasa Kliwonan.
KAS menjadi penceramah keliling untuk wilayah Salatiga dan sekitarnya, Madiun, Magelang, dan beberapa wilayah Pantura, seperti Semarang dan Kudus. Substansi wejangannya yang berinti logikopsikologi Jawa dijabarkan, antara lain dalam spektrum kepenuhan hidup dan manusia merdeka, pendidikan, rasa kebangsaan, dan matapencaharian. Wejangannya dikenal sebagai “kawruh begja,” “ilmu bahagia.” Metafora terkenalnya: “mulur mungkret.” KAS adalah tokoh pendidikan luar sekolah dan pendidikan orang dewasa di pedesaan zaman itu, cukup berbeda dengan Taman Siswa (didirikan 1922 — KAS ikut membidaninya). Pengaruh ajarannya semakin berkurang seiring jaman dan perkembangan alat komunikasi.

KAS bergaul terbuka dengan tokoh pemikir agama-agama dan para “politisi” serta telah mengomunikasikan idenya dengan banyak kalangan. Di Salatiga, tahun 1925-1959, pelbagai diskusi insidental (disebut “jonggringan”) tentang ajaran Kawruh Jiwa KAS (KJ KAS) dilakukan antara lain di Kemiri, Krajan, Kalisombo, dan Tamansari. Namun sejak 1999, kegiatan tersebut dilakukan di Jalan Muria 167 Karanganyar, Salatiga. Waktunya setiap hari Minggu (minggu ketiga) jam 2 hingga 5 sore. Gratis. Sebagian substansinya menjadi bagian perkuliahan Filsafat Manusia di FISIPOL UKSW (bekerjasama dengan UMS Solo, ICU Tokyo, dan Pusdiklat Kawruh Jiwa Pedan Klaten). Komunitas Pelajar Kawruh Jiwa Salatiga memiliki Buletin Kawruh Jiwa (2002-2004), yang sejak 2004 tidak lagi terbit, dan diganti dengan Buletin Kegiatan Jonggringan (terbit bulanan). Seorang pendukung juga membuat website. Kegiatan Jonggring Salaka Agung I 1932, semacam pertemuan regional di antara warga KJ, dilangsungkan di Salatiga.
Publikasi tentang Kawruh Jiwa berbahasa asing, antara lain ditulis oleh Clifford Geertz (USA, 1960), Marcel Bonef (Perancis, 1970-an), dan Someya Yoshimichi (Jepang, 1990-an).

Dasar filsafat
Kawruh Jiwa (KJ) sebagai “filsafat” lahir dari serentetan wejangan KAS dalam bentuk ucapan atau metafora, hasil permenungan, penyimpulan, dan pengkristalan pengalaman hidup KAS sendiri (antara lain di Salatiga). Maka tak berlebihan jika dikatakan bahwa ia adalah seorang acarya (guru spiritual — Red). KAS juga seorang fenomenolog.

Dasar falsafah KJ adalah empat karya pemikiran KAS ketika bermukim di Bringin, Salatiga, yakni Uran-uran Begja (1928), Wejang Kawruh Begja Sakwetah (1931), Kawruh Bab Kawruh (1933), dan Kawruh Thukulan Jagad (1933) sebagai sintesis dari tiga tulisan sebelumnya. Keempat tulisan KAS tersebut berpengaruh terhadap pelbagai tulisan permenungannya tahun 1935-1959, serta menjadi tema umum pertemuan Jonggring Salaka Agung (semacam konferensi nasional KJ) sepanjang tahun itu.

Uran-uran Begja adalah kumpulan tembang yang mengekspresikan makna petunjuk tentang adanya kasunyatan rasa pada setiap orang. Apabila dipahami dengan benar, akan membuahkan metodologi ke arah rasa begja. Wejang Kawruh Begja Sakwetah berinti wejang bahwa kita harus menghadapi individu lain sebagai ia seutuhnya (sakwetah). Pemahaman pokok isinya membuahkan rasa begja bila berhubungan dengan orang begja lain. Konteks hubungan demikian itu akan memunculkan rasa kepenak-ngepenakake, tenggang rasa, dengan dasar perirasa ketika “mengada” bersama orang lain. Kawruh Bab Kawruh berisi wejangan tentang pelbagai bentuk kita “mengada” dalam wujud. Bahasannya antara lain, bagaimana memelihara jalan pikiran sakwetah sebagai cara agar kita bisa menemukan jalan pikiran para orang begja.
KJ dengan ciri-cirinya di atas adalah medium pasinaon tentang raos bagi kramadangsa individu tentang adanya pemilahan antara “makna” (teges) dengan “catatan.”

Makna berisi petunjuk, ketetapan, dan pengertian tentang pelbagai kebutuhan dalam komunitas dan dunia orang. Itu semua adalah substansi pembelajaran agar mengerti, merasa, dan tahu tentang rasa begja, hidup tenteram-tatag-damai, dan tentang bebrayatan yang cukup-benar-menyenangkan. Seluruh pokok ini ditulis KAS dalam Kawruh Thukulan Jagad (1933) yang tak lain adalah kumpulan perenungan yang berinti bahwa kramadangsa perlu dicocokkan dan diuji hingga menghasilkan petunjuk praktis sebagai acuan rasa. Kesimpulannya, kita harus memahami setiap orang sebagai “ia seutuhnya,” lewat raos dan weruh.

Catatan diartikan sebagai pelbagai konsep di bawah sadar individual yang kemudian mempengaruhi keputusan mereka ketika lelawanan (perjumpaan) dengan masalah bab. Catatan terbentuk dari pelbagai konsep atau informasi yang berasal dari: (a) pelbagai ketetapan, adopsi pemikiran atau perasaan orang lain berbasis agama, kepercayaan, ajaran dan politik; (b) perjumpaan dengan pelbagai masalah keseharian yang umumnya dibangun individu masyarakat berdasarkan prinsip rasa menang (ungkul), rasa takut, kultus, ngotot, dan keterpaksaan; (c) perjumpaan dengan struktur bangun masyarakat yang merepresentasikan situasi dunia hasil revolusi ilmu pengetahuan, teknologi, ataupun ideologi.

Karena catatan hadir pada setiap orang, maka muncul dampak (seolah) pada setiap orang (itu) selalu terbebani rasa celaka, selalu ada atau terbelit masalah kehidupan, serta adanya kungkungan garis nasib (lelampahan).

Kristal empat tulisan KAS (1928-1933) adalah munculnya konsep-konsep “pisau analisis” untuk memahami adanya tiga unsur (sebab akibat) rasa celaka pada setiap orang, masalah kehidupan, dan garis nasib. Ketiganya berhubungan dengan konsep “catatan.”

Empat tulisan utama periode 1928-1933, merupakan dasar tulisan lanjut KAS periode 1935 hingga akhir hayatnya pada 1962. Tulisan-tulisan tersebut berisi rincian aplikatif konsep KJ dalam tiga pokok-besar: hidup, ide manusia unggul (manusia tanpa tenger), dan perjumpaan (pethukan).
Dalam subpokok hidup, dibicarakan hakikat-hakikat dari matapencaharian (pangupa jiwa), perkawinan (laki rabi), seks (birahi), dan pendidikan (pamomong) yang ditulis pada 1935. Pokok tersebut diperjelas lagi pada 1936 untuk menggambarkan watak isi dari kramadangsa sebagai kramadangsa umum dan khusus, dalam konteks wujud kramadangsa gemblengan pada 1937. Ketiga tulisan ini cocok menjadi dasar dan baik untuk diaplikasikan ketika seseorang lelawanan atau pethukan dengan tiga unsur penyebab manusia tertekan “catatan,” bukan “kawruh,” sehingga mereka tersituasikan menggendong rasa celaka, bermasalah dalam kehidupan, dan terkungkung oleh nasib lelampahan.

Ketiga tulisan tersebut difokuskan untuk merealisasi pengendalian kramadangsa, sehingga muncul sub-subpokok ide manusia unggul. Manusia unggul memiliki inti orang yang identik dan lebur dalam keinginan saling membantu mencapai kebahagiaan bersama, sakwetah, dan sejajar pada dasar prinsip kepenak-ngepenakake. Konsep itu disebut sebagai Ukuran IV pada 1953. Penerimaan konsep Ukuran IV disebut sebagai benih mekarnya KJ tahun 1954. KAS kemudian menulis bagaimana latihan-latihan untuk mencapai dan menumbuhkan Ukuran IV (dilaksanakan tahun 1956). Dengan penguasaan substansi dan metodik Ukuran IV, seseorang siap menjadi manusia unggul yang lentur mengaplikasi prinsip kepenak-ngepenakake. Hidupnya menjadi lebih tenteram, tatag, dan damai ketika berhadapan dengan bab di dunia ini (yang berprinsip ungkul-ungkulan, rasa takut, kultus, dan keterpaksaan). Atau ketika mereka menghadapi perubahan sosial disebabkan oleh pelbagai perubahan, misalnya teknologi, kependudukan, politik pemerintahan, dan ideologi.

Keenam pokok pemikiran KAS periode 1935-1956 hanyalah sebuah perspektif cara urai agar diperoleh pembulatan, tentang pentingnya penguasaan konsep Ukuran IV pada setiap orang yang belajar KJ, dan menghasilkan satu metode tertentu untuk mawas diri atas gambar dan pola laku kramadangsa mereka. KAS kemudian menulis Evaluasi Latihan Ukuran IV pada 1957, Mawas Diri pada 1958, dan Pethukan, yang belum selesai karena KAS keburu sakit dan meninggal tahun 1962.

Dengan tiga tulisan terakhir ini, KJ telah memberikan dasar kokoh filsafatnya, filsafat rasa pada manusia. Filsafat itu bisa diaplikasikan sebagai alat pethukan dalam rangka pemaknaan, bila terjadi bab ketika dirinya merasa: 
(a) tertekan catatan, bukan kawruh; 

(b) tersituasikan seolah selalu menggendong rasa celaka; 

(c) bermasalah dalam kehidupan ketika diri mereka merasa terpenjara oleh nasib lelampahan.
Tiga belas tulisan KAS tentang KJ periode 1928-1959, telah meletakkan dasar filsafat dan metode latihannya. Pelbagai tulisan tersebut sebagian telah dibukukan dalam bahasa Jawa (4 jilid) dan bahasa Indonesia (3 jilid). Edisi bahasa Indonesia kini dicetak lagi oleh Penerbit Grasindo, Jakarta.
Sifat khas filsafat Kawruh Jiwa (KJ), antara lain adalah:

(a) medium pembelajaran (pasinaon) bagi semua orang tentang rasa (raos);

(b) bukan agama, bukan kepercayaan, bukan kebatinan atau klenik, bukan perguruan, bukan pelajaran tentang baik dan buruk, dan bukan organisasi politik. KJ tidak phobia, melakukan keberpihakan pro-kontra, atau membuat sesuatu “yang baru” berkenaan dengan hal itu semua. KJ bukan agama, berarti berisi watak tidak demen atau sengit terhadap agama, sehingga KJ tidak akan membuat agama baru. Karena KJ bukan kepercayaan, ia juga tidak demen atau sengit terhadap kepercayaan, dan tidak akan membuat kepercayaan baru; 

(c) KJ adalah “barang baru” yang memperkenalkan pasinaon tentang bagaimana memelihara jalan pikiran, dan memelihara alur jalan rasa (orang) sakwetah dan holistik pada subyek diri manusia senyatanya yang berpikir, dan mempertemukan orang dengan sesama orang atas dasar perirasa.

Relevansi KJ untuk Salatiga
Selama ini Salatiga dikenal sebagai “tempat aman.” Tidak pernah muncul huru-hara, kota pensiunan, dan “kota hati beriman,” sehingga akan lebih baik jika anggota masyarakatnya juga mengenal logikopsikologi Jawa KAS yang mengidamkan munculnya masyarakat windu kencana, satu masyarakat tangguh beranggota manusia begja dengan inti orang bersifat adil dan kepenak-ngepenakake. KJ dengan filsafat rasanya cukup baik memberikan jalan kondisi kebudayaan bagi munculnya masyarakat madani di Salatiga. KJ KAS telah memiliki cara untuk mentransformasikan kesadaran dari seseorang biasa menjadi manusia begja, antara lain dengan mengaplikasikan dalam kehidupan keseharian 12 wejangan KAS dan beberapa metafora, antara lain sebagai berikut: 

(1) Ora ana kepenak sakliyane ngepenakake liyan. Tidak ada rasa enak selain mengenakkan orang lain; 

(2) Awake dhewe kramadangsa iku galak lan ampuh utawa sakwenang-wenang, iku padha saben wong. Aku kramadangsa bersifat galak dan ampuh atau sewenang-wenang, itu sama pada setiap orang. 

(3) Gegayuhan iku mung tutupe, kosokbaline awake dhewe sing nyata. Keinginan atau cita-cita (gegayuhan) adalah tutup, yang nyata adalah aku (kramadangsa); 

(4) Wong sulaya padha rumangsa bener, rumangsa bener iku sulaya. Para penyimpang (wong sulaya) merasa benar, padahal merasa benar itu sendiri (adalah) menyimpang (sulaya); (5) Utama iku nistane tanggane. (Tetapkan ukuran) utamamu setingkat dengan ukuran paling bawah (nista) dari tetapan ukuran tetangga. 

(6) Jalaran wedi weruh awake dhewe, wong banjur trima nggambar awake dhewe sing bagus nanging ora nyata. Karena takut terhadap realitas diri sendiri, orang kemudian membuat gambar citra diri, tetapi semu; 

(7) Yen ora duwe mungsuh ya ora duwe kanca, dadi kanca iku musuh. Bila tidak memiliki musuh berarti tidak memiliki teman, maka teman itu musuh; 

(8) Musuh iku titahe awake dhewe. Musuh itu cermin diri kita, galak dan ampuh; (9) Ana gegayuhan ana musuh. Ada keinginan atau cita-cita (gegayuhan) berarti ada musuh; 

(10) Ngalem nyacad iku bodho. Memuji atau mencela itu bodoh;

(11) Tiru-tiru iku ora tiru jalaran sing ditiru ora tiru-tiru. Meniru itu tidak akan persis hasilnya, sebab yang ditiru tidak meniru;

(12) Neja gawe ora kepenak ing liyan iku wis ora kepenak. Sengaja membuat orang lain tidak enak itu (sendiri) sudah tidak enak.

Pelbagai metafora itu antara lain: “langgeng bungah susah,” “salumahing bumi, sakureping langit, punika mboten wonten barang ingkang pantes dipunaya-aya dipunpadosi, utawi dipunceri-ceri dipuntampik.”

Metafora puncak filsafat KJ berbunyi, “Aku, ana, weruh, pribadi. Jagad lan karep isiku. Awang-uwung lan jaman tebaku. Saknya baku ora ono apa-apa.” Terjemahan bebasnya, ”Aku mengada, tahu, pribadi. Dunia dan kehendak isiku. (Hadir) melingkup pada sembarang jaman dan zarah ruang dan waktu. Di luarku adalah kekosongan dan ketiadaan.” Metafora terakhir bisa dianggap sebagai kredo KJ. Metafora lain yang cukup mengenakkan untuk manajemen kalbu adalah “menjalani hidup saat ini, di sini apapun bentuk wujudnya, aku mau” dengan ukuran kualitas subjektif enam sa: sakkepenake, sakbutuhe, sakperlune, sakcukupe, sakmesthine, dan sakbenere.

Prospek
Kegiatan jonggringan oleh Komunitas Pelajar Kawruh Jiwa Salatiga dimaksudkan, antara lain, mencari dasar nilai untuk penyelenggaraan posyandu lansia dan pembinaan remaja berbasis komunitas. Nilai yang dicari adalah nilai-nilai yang mendukung ketegaran, tatag, melakoni hidup hari ini sebaik-baiknya. Nilai tersebut muncul paling tidak dalam formulasi 12 wejangan KAS dan beberapa metafora di atas.

Dari pengamatan penulis selama 4 tahun berjalan, dan laporan penelitian selama ini, aplikasi harian terhadap wejangan dan metafora-metafora tersebut membuahkan kesejahteraan psikologis dengan indikasi naiknya kualitas (rasa) pribadi dalam ketangguhan, optimisme, keunggulan, dan berempati (Nanik Prihartanti, UMS Solo, 2003). Dan mengurangi munculnya “penyakit” psikosomatik (Someya Yoshimichi, ICU Tokyo, 2001).
Namun penyebaran dan aplikasi praktis pembelajaran KJ KAS dirasa cukup sulit dilaksanakan karena aspek finansial, internal kelembagaan, dan struktural kemasyarakatan. Terutama pandangan sebagian anggota masyarakat bahwa KJ identik dengan Kejawen. Ada pula anggapan bahwa KJ KAS berpandangan anarkis-damai. Padahal, isinya membahas logika dan psikologi berfondasi masyarakat Jawa.

Para pejabat (kebanyakan juga) cukup alergi dengan kegiatan bersifat nonagama yang diakui negara dan filsafat kebudayaan lokal. Mereka telah antipati, (seolah berprinsip) tidak ada hak hidup bagi aliran filsafat, agama asli, atau kepercayaan (baca: folk religion), dengan salah satu dalih isi GBHN 1998 bahwa aliran kepercayaan harus menginduk ke agama resmi.
Mau mencoba merasakan manfaat filsafat Kawruh Jiwa? Silakan tekun hadir dalam jonggringan.

Tri Kadarsilo, salah satu penulis buku “Kawruh Jiwa Ki Ageng Suryamentaram dalam Perspektif”

Resource: http://scientiarum.com/2008/04/18/ki-ageng-suryamentaram-filosof-dari-salatiga/

Monday, 28 February 2011

Harapan Para Skater.

Gambar : Prita Yudha Puspita
Divisi Tiang Salatiga eksis sebagai komunitas pemain skateboard di Salatiga. Komunitas ini berawal dari sekelompok anak muda yang menghabiskan waktu sore hari dengan bermain skateboard. Mereka lalu berkumpul dan menjadi sebuah komunitas yang terstruktur untuk menampung para skater (sebutan bagi para pemain skateboard) di Salatiga.

DTS resmi berdiri tahun 2004. Kini ia beranggotakan sekitar 20-30 orang, dua pertiga di antaranya mahasiswa Satya Wacana. “Jumlah anggota DTS memang tidak begitu jelas, karena ada beberapa orang yang cuma ikut gabung, beberapa waktu kemudian tidak kelihatan lagi,” ujar Miko. 

Miko, yang bernama lengkap Kurnia Bagus Jatmiko, adalah ketua DTS. Ia masih tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Teknologi Informasi angkatan 2003.
“Kami latihan tiap sore di jalan masuk SMP 1 Salatiga. Di stadion Kridanggo juga ada yang latihan tiap sore, tapi mereka bukan dari DTS. Mereka membentuk komunitas sendiri dengan nama Underlamp. Jadi di Salatiga ada dua komunitas skate,” imbuh Miko.
Mengapa kedua komunitas itu tidak disatukan saja, padahal mereka berada pada jalur yang sama?
Miko mengatakan bahwa ia pernah mencoba hal tersebut. Tapi Underlamp menolak. “Mereka mungkin malu untuk gabung dengan kami, tapi hal itu bukan masalah serius. Kami tetap mengajak mereka untuk bergabung tiap kali mengadakan acara-acara tertentu,” terangnya.
“Kami juga punya program yang berisi acara-acara yang akan kami lakukan, di antaranya: Skate Day, acara-acara sosial, mengadakan kompetisi skateboard tingkat nasional, dan arisan,” urai Miko.

Miko menjelaskan bahwa Skate Day merupakan acara setahun sekali. Saat Skate Day, biasanya mereka akan bermain skateboard sambil membersihkan kota. Adapula arisan yang jumlah anggotanya sebanyak 35 orang, dan dilaksanakan dua minggu sekali. “Kami berharap bahwa dengan arisan ini akan membantu anggota untuk dapat membeli papan skate yang harganya terbilang mahal itu,” kata Miko.
PRESTASI 2006
Free Ride Skate Competition (Boyolali)
Kurnia Bagus Jatmiko — Juara Harapan 1 Kelas Pemula
PRESTASI 2007
Madiun Cinta Kamu Skate Competition (Madiun)
Kurnia Bagus Jatmiko — Juara Harapan 1 Kelas Pemula
Sulistyono — Juara Harapan 2 Kelas Pemula
PRESTASI 2008
Go Skate Day (Salatiga)
Sulistyono — Juara 1
Sk8latiga Skate Competition (Salatiga)
Hokki Rio Maycenas — Juara Harapan 1 Kelas Pemula
Sulistyono — Juara Harapan 2 Kelas Pemula
Hari Merdeka Skate Competition (Boyolali)
Sulistyono — Juara 1 Kelas Pemula
Born to be Free (Pekalongan)
Sulistyono — Juara 2 Kelas Open
Kurt — Juara 1 Kelas Pemula
Hokki Rio Maycenas — Juara 2 Kelas Pemula
Walau DTS telah mencetak berbagai prestasi, tapi olahraga skateboard masih dianggap asing dan tak masuk dalam 33 cabang olahraga yang diakui Komite Olahraga Nasional Indonesia Salatiga. Setali tiga uang, DTS juga tak punya relasi dengan Satya Wacana. “Dana yang kami gunakan ketika mengadakan event tertentu, kami dapatkan dari iuran anggota. Kadang kami juga mengajukan permohonan dana kepada Pemerintah, terutama ke Dinas Sosial. Kadang ditanggapi dan kadang pula tidak ditanggapin sama sekali,” ujar Miko.

DTS telah menggelar beberapa kegiatan seperti Happy Melodic 2006 (skateboard, BMX, band, dan bazar), Go Skateboarding Day 21 Juni 2008 (kerjasama dengan Dewan Kesenian Salatiga, Salatiga Reggae United, dan komunitas Tanam Untuk Kehidupan), serta Sk8latiga Skateboard Competition 2008 (kompetisi skateboard tingkat nasional).
Tidak adanya arena latihan bagi para skater jadi kendala serius bagi kemajuan mereka. Kadang-kadang anggota DTS diusir polisi ketika sedang latihan, karena dianggap dapat merusak aspal jalan. “Kami juga pernah ditangkap polisi ketika melakukan latihan di sekitar lapangan Pancasila, dianggap mengganggu kelancaran lalu lintas. Padahal, waktu itu kami latihan jam lima pagi,” kata Miko.

Miko berharap bahwa nantinya para skater di Salatiga akan disediakan tempat khusus untuk bermain skateboard, sehingga mereka tak akan kesulitan lagi mencari tempat untuk latihan.
Miko berharap, DTS bisa terus eksis. Namun semua ini tak akan berhasil bila tanpa dorongan pihak-pihak terkait. Berhubung para anggota DTS kebanyakan mahasiswa UKSW, dia juga berharap Lembaga Kemahasiswaan dapat menjadikan olahraga ini sebagai salah satu unit kegiatan mahasiswa, di bawah naungan Senat Mahasiswa Universitas.

Prita Yudha Puspita, reporter magang Scientiarum.

Thursday, 24 February 2011

Apresiasi Seni dan Konservasi Alam Lewat Merti Desa

Suara gamelan memecah keheningan Dusun Grintingan, Desa Lencoh, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Dusun yang terletak di lereng Gunung Merbabu ini tengah mengadakan upacara selamatan merti desa (bersih desa atau sedekah bumi) dan ritual Kirab Sesaji Sendhang. Acara tersebut merupakan peringatan hari besar 15 Sapar (kalender Jawa) yang bertepatan pada hari Senin dan Selasa, 1-2 Februari 2010.

Pada Senin, 1 Februari 2010, prosesi diawali pukul 10.00 dengan kenduri sesaji gunungan sego golong yang diikuti oleh seluruh penduduk setempat.
Siang hari berikutnya, dengan berpakaian adat Jawa lengkap, para tokoh, tetua dan masyarakat dusun mengiring kirab berkeliling desa dengan iringan gamelan.
Acara dilanjutkan dengan upacara ritual di Tuk (mata air atau Sendhang) Salam dan Tuk Tulangan dan penanaman pohon keramat di Tuk tersebut. Pohon yang dikeramatkan tersebut ialah pohon trembesi.

Mahasiswa ikut berperan
Beragam kesenian dipentaskan usai upacara selamatan bersih desa dan ritual Kirab Sesaji Sendhang. Paguyuban Seni Sawung Gunung yang terbentuk tahun 2007, turut memeriahkan acara ini. Empat jenis kesenian yang mereka ciptakan bersama mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, menjadikan Dusun Grintingan memiliki kesenian khas tersendiri. Empat kesenian tersebut itu ialah Tanen, Buto Grasak, Jaran Gunung (Janung) dan Pring Gunung Kawedhar.
Pring Gunung Kawedhar adalah seni tari yang tergolong baru. Tarian ini dibuat Paguyuban Seni Sawung Gunung pada 31 Januari 2010 dan dipentaskan perdana pada acara ini. 

Gambar Apresiasi Seni dan Konservasi Alam Lewat Merti Desa
Tarian Pring Gunung Kawedhar berkostum terbuat dari pring (bambu).
{Foto oleh Subiharto}.

Mahasiswa ISI Surakarta, Purnawan Andra menjelaskan, tari ini merupakan cermin dari pengawasan, kewaspadaan, penjagaan dan pemeliharaan terhadap alam.
”Pring Gunung Kawedhar diilhami dari kearifan lokal pring (bambu) sebagai tumbuhan dan merevitalisasi kentongan sebagai alat komunikasi komunitas sekaligus nilai-nilai komunalisme. Bambu telah menjadi khas bagi dusun ini dan pernah juga digunakan untuk membantu pascagempa di Bantul (DI Yogyakarta),” ujar Purnawan, mahasiswa yang ikut berperan atas terbentuknya wadah kesenian dan terciptanya karya seni di dusun ini.
Acara ini juga dimeriahkan oleh mahasiswa dari ISI Surakarta, ISI Yogyakarta serta beberapa komunitas kesenian. Menurut Andra, pertunjukan ini adalah atas inisiatif warga. ”Kami hanya menginformasikan—pada rekan-rekan mahasiswa dan komunitas kesenian—bahwa ada pentas di sini (Dusun Grintingan),” imbuhnya.
Apresiasi seni
Kiprah Ratu Sewu merupakan tarian bercorak Jawa dibawakan oleh Sekti Wibowo, Oleg (Bali) oleh Rani Iswinindar, Srenggot (Banyumas) oleh Widya Ayu dan Ardana, Marungan (Banyumas) oleh Widiyanti. Seluruhnya adalah mahasiswa ISI Surakarta.
Rampak Kendang Pakanjarak ialah salah satu seni menabuh kendang yang dimainkan oleh Totok (Salatiga) dan Josh (Makassar), mahasiswa ISI Yogyakarta berkolaborasi dengan Seruling Bali yang dimainkan oleh Galuh, salah satu pengurus Sanggar Djamboe Kampoeng Pancuran, Kota Salatiga, Jateng. 

Gambar Apresiasi Seni dan Konservasi Alam Lewat Merti Desa
Kerumunan penonton menyaksikan pentas kolaborasi Rampak Kendang Pakanjarak dengan seruling Bali. {Foto oleh Subiharto}.

Sebuah karya wayang kontemporer dengan nama Wayang Bhineka yang dibawakan oleh dalang Syeh Jumjum (Jumari) dari Kabupaten Sragen, Jateng menjadi puncak acara. Lakon Hantu Hutan dibawakan dengan bahasa campuran antara Bahasa Jawa dengan bahasa nasional, mencairkan suasana. Lakon tersebut mengkritik para pencuri kayu di hutan. Pesan dalam pentas wayang ini adalah menyampaikan pentingnya memelihara hutan, sehingga tidak menimbulkan bencana.

Peduli terhadap alam
Dalam kegiatan ini, juga dilaksakan penanaman pohon sebagai wujud konservasi alam. Subagiyo Hari Utomo, salah satu tokoh masyarakat mengatakan, ”Setiap orang diwajibkan membawa minimal lima pohon. Penanaman tersebut dilakukan di Tuk Salam dan Tuk Tulangan, Merbabu. Ini juga merupakan rangkaian acara Merti Desa, tetapi waktunya berselang agak lama.”
”Prosesi upacara selamatan Merti Desa, ritual Kirab Sesaji Sendhang dan ekspresi seni yang ditampilkan menyimpan nilai-nilai kearifan lokal dan sebagai wujud kepedulian masyarakat terhadap usaha konservasi alam,” ujar Subagiyo, yang juga pimpinan Paguyuban Seni Sawung Gunung.